Bab 5 atom from Willy Chandra
Thursday, October 22, 2015
Artikel Korosi Pada Kapal Baja
KOROSI ???
A. Pengertian Korosi
Korosi adalah suatu reaksi redoks antara logam dengan berbagai zat yang ada di
lingkungannya sehingga menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki.
Dalam kehidupan sehari-hari korosi kita kenal dengan sebutan perkaratan.
B.
Penyebab Korosi Pada Kapal Baja
Kapal baja merupakan kapal dengan seluruh bangunan penyusunnya yang terbuat dari baja paduan dengan
komposisi kimia sesuai standar untuk konstruksi kapal yang dikeluarkan oleh
biro klasifikasi kapal (Standards:ABS, BKI, DNV, RINA, GL, LR, BV, , NK, KR,
CCS and etc) dengan klas baja : A, B, C, D dan E. ( Grade: A, B, D, E,
AH32-AH40, DH32-DH40 ,A32 ,A36 ,D32, D36 and etc) dengan tebal: 8 mm s/d 100
mm, lebar : 1500 mm s/d 2700 mm, panjang : 6 m s/d 13 m.
Berikut
adalah sifat mekanis plat baja kapal menurut BKI tahun 2006
*sifat mekanis plat baja kapal
menurut BKI tahun 2006
Pemakaian
pelat baja untuk bangunan kapal memiliki resiko kerusakan yang tinggi, terutama
terjadinya korosi pada pelat baja yang merupakan proses elektrokimia, akibat
lingkungan air laut yang memiliki resistivitas sangat rendah + 25 Ohm-cm,jika
dibandingkan dengan air tawar + 4.000 Ohm-cm, (Caridis, 1995) dan sesuai dengan
posisi pelat pada lambung kapal.
Salah satu sumber kerusakan terbesar pada kapal laut adalah
disebabkan oleh korosi air laut. Sampai saat ini penggunaan besi dan baja
sebagai bahan utama pembuatan kapal masih dominan. Dari segi biaya dan
kekuatan, penggunaan besi dan baja untuk bangunan kapal memang cukup memadai.
Tetapi besi dan baja sangat reaktif dan mempunyai kecenderungan yang besar
untuk terserang korosi air laut. Korosi merupakan suatu proses degradasi dari
suatu logam yang dikarenakan terjadinya reaksi kimia antara logam tersebut
dengan lingkungannya. Pada dasarnya korosi adalah peristiwa pelepasan
elektron-elektron dari logam (besi atau baja) yang berada di dalam larutan
elektrolit misalnya air laut. Sedangkan atom-atom yang bermuatan positif dari
logam (Fe+3) akan bereaksi dengan ion hydroxyl (OH-) membentuk ferri hidroksida
[Fe(OH)3] yang dikenal sebagai karat. Berdasarkan segi konstruksi pada kapal
laut, pelat lambung kapal adalah daerah yang pertama kali terkena air laut. Pada
daerah lambung ini bagian bawah air ataupun daerah atas air rentang terkena
korosi. Korosi pada pelat badan kapal dapat mengakibatkan turunnya kekuatan dan
umur pakai kapal, mengurangi kecepatan kapal serta mengurangi jaminan
keselamatan dan keamanan muatan barang dan penumpang. Untuk menghindari
kerugian yang lebih besar akibat korosi air laut, maka perawatan dan
pemeliharaan kapal harus dilakukan secara berkala. Posisi pelat
baja lambung kapal terbagi dalam tiga bagian yaitu :
1. Selalu
tercelup air yaitu pelat lajur alas, pelat lajur bilga, dan pelat lajur sisi
sampai sarat minimal.
2. Keluar masuk
air yaitu pelat lajur sisi kapal dari sarat air minimal sampai sarat air
maksimal
3. Tidak
tercelup air yaitu pelat lajur sisi mulai dari sarat maksimal sampai dek utama
kapal
C.
Jenis – Jenis Korosi
Pada Kapal Baja
Adapun korosi kapal baja dapat dibedakan menjadi menjadi 5 jenis
yaitu korosi merata, pelobangan, korosi tegangan, korosi erosi dan korosi
celah.
1. Korosi
Merata atau uniform corrosion adalah seluruh permukaan pelat terserang korosi biasanya
pada bagian pelat yang berada diatas garis air.
2. Korosi
Pelobangan (pitting corrosion), pada permukaan pelat terjadi lobang yang
semakin lama akan bertambah dalam dan akhirnya dapat menembus pelat kapal.
3. Korosi
Tegangan (stress corrosion), korosi pada bagian pelat yang memikul beban besar.
4. Korosi Erosi
(errosion corrosion), korosi yang terjadi pada material yang menerima tumbukan
partikel cairan yang mengalir dengan kecepatan tinggi.
5. Korosi Celah
(crevice corrosion), korosi yang terjadi pada celah, daerah jepitan, sambungan
dan daerah yang ditutupi binatang dan tumbuhan kecil.
Bentuk korosi yang sering terjadi pada lambung kapal adalah
korosi merata. Korosi merata adalah jenis korosi dimana pada korosi tipe
ini laju korosi yang terjadi pada seluruh permukaan logam atau paduan yang
terpapar atau terbuka ke lingkungan berlangsung dengan laju yang hampir sama. Hampir seluruh permukaan
logam menampakkan terjadinya proses korosi.
D.
Pencegahan
Korosi Pada Kapal Baja
Sampai saat ini untuk melindungi pelat badan kapal terhadap
serangan korosi air laut masih menggunakan 3 (tiga) cara yaitu
menghindari penyebab korosi, pelindungan secara aktif (Dengan metode
Cathodic Protection) dan perlindungan secara pasif (Dengan proses pengecatan). METODE CATHODIC PROTECTION merupakan
metode yang sudah sangat lazim dilaksanakan untuk proteksi korosi pada lambung
kapal, namun adakalanya hal ini tidak terlalu diperhatikan secara serius
sehingga hasil yang diinginkan biasanya meleset dan tidak efisien. Salah satu
metode cathodic protection adalah metode anode korban.
Adakalanya di lapangan ditemui pelat-pelat lambung kapal
yang terserang korosi berat dikarenakan kurangnya anode korban yang dipasang.
Oleh karena itu dalam penelitian ini akan di bahas mengenai kebutuhan
pemasangan perlindungan katode untuk mencegah korosi pada lambung kapal di
dalam media air laut, dimana dilakukan perbandingan katode yang sering
digunakan yaitu Zinc Cathodic Protection (ZCP) dan Alumunium Cathodic
Protection (ACP).
*anode kapal yang telah terkorosi
Sebelum dipasang anode korban yang baru, salah satu kapal baja yang mengalami proses Coating terlebih dahulu, dimana memakai satu lapis / layer dengan ditambah 2 lapis intermadiate / top coats, minimum 300 µm nominal DFT (Dry Film Thickness) kategori III dengan umur pelapisan adalah selama 5 tahun.
Penggantian anode korban pada salah satu kapal baja adalah
dengan menggunakan anode korban alumunium dengan bentuk elongated flush
mounted tanpa backfill dengan dimensi anode 395 mm x 150 mm x 30 mm
dengan berat netto 4.5 Kg sebanyak 24 buah.
Sebelum melakukan perhitungan kebutuhan anode korban pada salah satu kapal baja, ada beberapa data yang diperlukan dalam perhitungan. Data-data yang diperlukan dalam perhitungan proteksi lambung kapal dengan menggunakan anoda korban yaitu :
v Ukuran luas pelat lambung kapal yang
akan di proteksi
v Coating kapal
v Jenis anoda
v Resistivitas air laut.
v Nilai resistivitas air laut
diperoleh dengan menggunakan acuan pada DNV RPB 401 tentang resistivitas dimana
temperature air antara 7oC sampai dengan 12oC, maka nilai
resistivitas antara 0,3 dan 1,5(ohm.m). Dalam hal ini diambil 1,5 ohm.m.
v Umur proteksi
v Keperluan arus proteksi.
v Nilai keperluan arus proteksi
diperoleh dengan mengacu pada DNV RPB 401, dimana desain arus menurut iklim
sedang dan kedalaman 0 meter – 30 meter dengan temperatur 7 oC – 12 oC,
maka nilai keperluan arus proteksinya adalah 0,100 A/m2.
Subscribe to:
Posts (Atom)



